Masa-masa pandemi ini seringkali digunakan oleh berbagai orang untuk menjadi “produktif” dan memaksimalkan waktu luang sebisa mungkin. Banyak yang belajar memasak, ada pula yang mengambil kursus-kursus online pada platform seperti EdX dan Coursera untuk memperkaya ilmunya. Ada juga mereka yang menggunakan waktu ekstra selama bekerja di rumah untuk berolahraga dan menjadi bugar. Seringkali kita melihat media sosial dan melihat update dari berbagai kenalan kita yang melakukan berbagai kegiatan di atas dan mulai membanding-bandingkan diri kita. Kadang kita merasa puas karena mungkin kita sendiri sudah melakukan hal yang serupa. Tapi lebih sering kita akan merasa kurang dan bahkan insecure karena merasa bahwa selama pandemi ini yang kita lakukan hanyalah menjadi bagian dari “kaum rebahan”. Mungkin selama beberapa bulan ini, hanya sedikit pekerjaan yang tersentuh, atau mungkin seharian ini waktumu kamu habiskan sekadar menonton Netflix sambil mengunyah cemilan favoritmu. Terus mestinya gimana?

Pertama-tama penting untuk mengingat bahwa dunia sedang berada dalam keadaan kacau sejak kemunculan COVID-19. Untuk kamu dapat membaca artikel ini dari kamarmu di rumah sambil rebahan di kasur atau dari layar laptopmu sambil menyantap makan malam berarti bahwa kamu adalah salah satu dari sebagian orang yang cukup beruntung untuk belum menjadi pasien positif COVID-19 dan juga merupakan salah satu dari segelintir orang yang hidupnya cukup “mapan” agar bisa menghabiskan waktu yang lama tanpa bepergian keluar rumah. Tenang, ini bukanlah salah satu artikel yang penuh dengan “toxic positivity” yang memaksakan bahwa kita harus tetap bersyukur karena ada yang hidupnya lebih parah keadaannya dari kita.

Kedua, kita perlu meninjau ulang arti sebenarnya dan persepsi kita terhadap konsep produktifitas itu sendiri. Produktifitas adalah ukuran efisiensi seseorang dalam menyelesaikan sebuah tugas atau tujuan. Kalau tujuanmu untuk hari ini adalah untuk menyelesaikan laporan, maka produktifitasmu akan diukur dengan apakah laporanmu selesai pada akhir hari ini. Menyibukkan hari ini dengan berbagai kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan laporanmu tidak lah terhitung produktif. Kalau tujuanmu hari ini hanya sebatas menyelesaikan serial drama di TV dan beristirahat, maka mengerjakan laporan dan membaca buku kuliah tidak akan terhitung sebagai “produktif”. 

Jadi, bisa disimpulkan bahwa tidak ada satu standar mutlak untuk mengukur produktifitas seseorang, melainkan bahwa konsep produktifitas setiap orang berubah setiap ada tujuan baru yang muncul. Terakhir, penting mengingat bahwa di masa-masa yang tidak pasti ini, adalah suatu keberuntungan bagi kita yang masih bisa menjalankan kegiatan “santai” tanpa perlu khawatir akan hari esok.

Sibuk Bukan Berarti Produktif