Sudah 4 bulan berlalu sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo. Seperti yang kita ketahui, sejak itu jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan yang luar biasa per harinya, bahkan pada saat kamu membaca tulisan ini ada kemungkinan bahwa jumlah kasus positif sudah menyentuh angka 95,000. Dampak pandemi ini sangatlah dirasakan oleh masyarakat, masker menjadi mahal, tempat perbelanjaan ditutup, bioskop dan tempat hiburan ditutup, dan tidak sedikit juga pegawai yang dirumahkan. Perekonomian Indonesia pun tergerus hingga para pakar mewanti-wanti akan datangnya resesi. Namun di tengah-tengah terpukulnya berbagai industri, ada satu sektor yang justru bersinar di pandemi ini, sektor teknologi informasi komunikasi (TIK). Bukan hanya bertahan, sektor teknologi informasi komunikasi di Indonesia bahkan mengalami pertumbuhan sebesar 9,81%.

Pertumbuhan ini bukan suatu kebetulan; dengan dikenalkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh pemerintah dan beberapa kantor yang mengadopsi kebijakan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah, penggunaan aplikasi video conference seperti Zoom, Google Meet, Skype bertambah pesat. Dibatasinya layanan restoran untuk makan di tempat atau dine-in membuat khalayak beralih ke pelayanan pesan antar, baik dari restorannya langsung atau menggunakan platform seperti Grabfood milik Grab atau Go-food milik Gojek. Imbas dari hal-hal ini adalah naiknya penggunaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi dan meningkatnya penghasilan provider internet seperti Telkom dan First Media. Bisa dikatakan bahwa di saat banyak orang yang kebingungan di tengah-tengah pandemi, orang-orang yang bekerja di sektor teknologi bisa lebih bernapas lega karena justru sekarang lah mereka sangat dibutuhkan, baik untuk maintenance jaringan, bantuan (tech support), ataupun pengembangan.

Setelah beberapa minggu menjalankan WFH, tentu saja ada banyak kantor yang mulai memikirkan langkah-langkah yang harus diambil apabila sebagian besar pekerjaan kantor harus tetap dilakukan secara daring untuk jangka waktu yang cukup lama. Seperti yang dikatakan oleh ICT for Development Researcher Daniel Oscar Baskoro, implikasi dari pandemi ini ada beberapa: more technology, more automation, dan less mobility. More technology berarti meningkatnya penggunaan teknologi di kehidupan masyarakat dan munculnya berbagai inovasi teknologi yang digunakan untuk lebih memaksimalkan kegiatan selama pandemi, seperti absensi kantor secara online, rapat online, dan bahkan hingga ibadah online. More automation berarti banyak industri yang akan memanfaatkan secara penuh automasi di pabrik dan jalur produksinya agar tetap dapat memenuhi target dan juga di saat yang bersamaan mengurangi secara jauh kontak antar manusia. Automasi ini biasanya berupa robot-robot yang saling berhubungan menggunakan sistem IoT atau Internet of Things. Dengan menggunakan robot/mesin, biaya operasional pabrik berkurang jauh. Less mobility berarti berkurangnya tingkat masyarakat yang bepergian untuk melakukan perjalanan dinas atau perjalanan bisnis karena digantikan dengan video conference jarak jauh.

Kalau kamu gimana? Apakah kamu salah satu yang sedang kesusahan di tengah pandemi? Atau justru lagi naik daun karena tiba-tiba usahamu banjir pesanan karena usahamu makin dikenal sejak pandemic? Atau justru..kamu itu pekerja kantoran yang WFH tapi frustrasi karena sistem IT kantor nge-lag parah dan banyak bug? Apapun itu, kami di Markas Hosting siap mengakomodir segala kebutuhan IT kamu, dimulai dari desain web untuk toko online, penguatan infrastruktur IT kantor (absensi online, aplikasi pembukuan), pembuatan web kantor, dan kami juga melayani pembuatan website pribadi bagi kamu yang ingin mencari kesempatan baru dan meningkatkan nilai jual pribadimu. Tertarik?

Teknologi Informasi Semakin Kokoh di Tengah Pandemi