Menurut Investopedia, financial technology atau biasa disingkat fintech adalah kata yang dipakai untuk mendeskripsikan penggunaan teknologi baru dengan tujuan mengembangkan dan mendukung otomatisasi layanan keuangan. Sejatinya, fintech berarti inovasi dalam pelayanan finansial yang disertai sentuhan teknologi. Bank Indonesia membagi fintech menjadi 4 jenis, dimana salah satunya adalah peer-to-peer (P2P) lending.  

Apa itu P2P Lending?

Peer-to-peer lending atau biasa disingkat P2P Lending adalah metode pinjam-meminjam uang untuk keperluan bisnis maupun individu tanpa bank sebagai perantara. Kegiatan pinjam-meminjam uang di platform P2P Lending berbeda jauh dengan pengajuan pinjaman di bank karena beberapa hal. Hah? Maksudnya apa? Jadi gini, kalau sobat markas menabung uang di bank, uang itu akan diputar oleh pihak bank melalui berbagai macam cara seperti pinjaman kartu kredit, KPR, pinjaman modal usaha perusahaan, dan pinjaman pribadi. Dari berbagai pinjaman tersebut, bank mengambil bunga sekitar 12 hingga 30% per tahun. Nasabah yang menabung di bank akan mendapat bunga sebesar 0,5% per tahun, dan selisih antara kredit bank dan bunga yang diperoleh nasabah adalah keuntungan dari bank. Nah, P2P Lending hadir untuk “memotong” proses ini dengan cara menghilangkan peran bank sebagai perantara untuk menyalurkan dana nasabah. 

Melalui P2P Lending, pendana dapat melihat sendiri berbagai informasi mengenai calon peminjam uang sebagai bahan pertimbangan untuk meminjamkan uangnya. Platform P2P Lending seperti Modalku, KoinWorks, Asetku, dan Investree biasanya akan menyediakan informasi seperti nama peminjam, sejarah peminjaman uang, tingkat keterlambatan pembayaran, dan juga jenis resiko. Biasanya jenis resiko paling rendah adalah pinjaman yang bersifat business loan atau pinjaman yang diperuntukan untuk mengembangkan suatu usaha/bisnis dengan harapan bisnis tersebut akan menghasilkan lebih banyak uang daripada yang awalnya dipinjam sebagai modal. Sedangkan jenis resiko yang paling tinggi adalah pinjaman yang diperuntukan untuk kebutuhan konsumtif atau kebutuhan pribadi yang tidak akan menghasilkan uang seperti untuk membeli baju dan  handphone untuk memenuhi gaya hidup seseorang.

Untungnya dimana?

Return tinggi

P2P Lending menjanjikan return yang secara signifikan lebih tinggi daripada menabung secara konvensional di bank. Return yang dijanjikan oleh P2P Lending biasanya bernilai di atas 12%, yang tentu saja jauh lebih tinggi dibandingkan bunga bank yang hanya 0,5% per tahun. Bagi pendana/pemilik modal, tentu saja opsi berinvestasi di P2P Lending sangat menggiurkan. 

Proses yang mudah dan cepat

Bagi peminjam, proses pengajuan pinjaman di bank kadang terasa sulit dan rumit, dan memerlukan jaminan tertentu seperti BPKB kendaraan, sertifikat tanah, dan sertifikat rumah. Tapi tidak demikian dengan P2P Lending. Proses pengajuan pinjaman, dan proses pemberkasan semuanya berlangsung online dan dalam kurun waktu sekitar 2 jam seorang peminjam sudah bisa mengajukan pinjaman pertamanya.

Cocok untuk diversifikasi investasi

Warren Buffet pernah berkata “Don’t put all your eggs in one basket”, yang apabila diterjemahkan berarti “Jangan menaruh semua telurmu dalam satu keranjang”. Apa artinya? Pepatah ini mengajak untuk jangan menaruh semua modal dalam hanya satu jenis investasi. Dalam arti lain, mengajarkan diversifikasi investasi. Apabila sobat markas mempunyai modal yang cukup besar, alangkah bijaknya untuk memanfaatkan platform P2P Lending sebagai tempat diversifikasi portfolio investasi. Tapi sangat tidak disarankan untuk menaruh 100% dari aset/modal kita ke dalam P2P Lending.

Apa saja resikonya?

Meski sudah resmi dibawah pengawasan OJK, tentu saja menggunakan P2P Lending bukannya tanpa resiko. Yuk simak beberapa resiko sekitar P2P Lending yang mengintai baik pendana maupun peminjam:

Terlilit hutang

Proses pengajuan pinjaman yang mudah, ditambah dengan semakin bertumbuhnya minat masyarakat Indonesia terhadap fintech termasuk P2P Lending, secara tidak langsung membesarkan budaya hutang. Tentu saja, ada baiknya apabila mengajukan pinjaman untuk modal usaha yang akan menghasilkan jauh lebih banyak dari modal awal yang dipinjam. Namun tidak sedikit juga orang yang memanfaatkan platform P2P Lending untuk memenuhi gaya hidup konsumtifnya. Bisa dibilang, mereka memiliki kemauan namun nihil kemampuan. Ini sangatlah disayangkan karena pola hidup konsumtif yang didukung oleh hutang pribadi akan menjerumuskan seseorang ke dalam lilitan hutang yang tidak habis-habis. 

Kredit macet, uang investor hilang

Karena platform P2P Lending hanya bertindak sebagai titik pertemuan pendana dan peminjam uang, segala jenis kredit macet dan tunggakan ditanggung pendana. Jika peminjam menunggak, bukannya tidak mungkin kalau investor kehilangan uangnya. Ini dinamakan resiko kredit, yang tidak terjadi pada bank konvensional. Pada bank, apabila kreditur menunggak, resiko masih ditanggung bank yang berarti sang investor/nasabah dapat tetap menarik kembali uangnya secara utuh.

Uang bisa disalahgunakan/hilang

Dana yang disetorkan pada pengelola P2P bisa saja disalahgunakan ataupun hilang. Walaupun sudah dilakukan langkah preventif oleh pengelola P2P dengan menempatkan dana investor di rekening virtual pada bank atas nama investor (yang sekilas mirip dengan cara kerja broker saham pasar modal), pengawasannya kurang ketat karena belum ada regulasi dan kekuasaan pengawasan untuk hal ini. Sebagai perbandingan, broker saham di pasar modal hanya bisa mendapatkan akses ke rekening investor apabila otoritas settlement mengeluarkan bukti transaksi. Tanpa bukti transaksi, pihak bank dimana dana itu disimpan tidak akan memperbolehkan broker mengotak-atik dana nasabah. Ditambah juga dengan pengawasan yang sangat ketat.

Akhir kata, platform Peer-to-peer Lending (P2P Lending) memang menawarkan banyak kemudahan bagi yang ingin beroleh pinjaman uang secara mudah dan cepat, dan menjanjikan return investasi yang tinggi bagi kalian yang tertarik untuk berinvestasi sebagai pendana. Namun P2P hadir pula dengan berbagai resiko. Tapi tentu saja tidak ada instrumen investasi yang tanpa resiko, dan menurut penulis, ada benarnya juga pepatah “high risk, high reward”, yang berarti dibalik resiko tinggi terdapat pula keuntungan tinggi. Waspadalah dalam memberi pinjaman uang, dan semoga selalu cuan dalam berinvestasi.

Yuk Kenali P2P Lending dan Resikonya!